Agro Bersatu, Agro Berdaulat

Potensi Sumber Daya Alam dan Hayati yang  melimpah ruah, dengan luasan 193 juta ha berjajar tanah subur, hutan yang kaya raya akan keanekaragaman hayati serta 500 juta ha laut yang membentang luas dari Sabang sampai Merauke merupakan anugerah tiada tara bagi Mayarakat Indonesia. Namun dengan potensi tersebut Indonesia belum dapat memaksimalkan potensi yang ada. Hal ini dibuktikan dengan keadaan ekonomi masyarakat yang masih compang camping dan banyak sekali masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Atas dasar kondisi tersebut, mahasiswa komplek Agro Universitas Gadjah Mada menginisiasi suatu gerakan untuk membangun Indonesia dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah tersebut. Gerakan yang diberi nama Gerakan Agro Berdaulat, gerakan ini diinisiasikan oleh beberapa fakultas yang tergabung dalam komplek Agro. Komplek Agro terdiri dari fakultas peternakan, kedokteran hewan, pertanian, kehutanan, dan teknologi pertanian. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa UGM dan disambut baik oleh Bapak Senawi sebagai  Direktur Kemahasiswaan UGM. Beliau mendukung gerakan tersebut. Setelah sambutan Bapak Senawi usai, dilanjutkan dengan pemaparan perwakilan tiap fakultas untuk menyampaikan isu yang diangkat untuk mencapai kedaulatan sektor agro.

Kehutanan dijuluki raja rimba tanpa mahkota. Kehutanan pernah menjadi kekuatan inti pada sistem ekonomi Indonesia, sebagai penyumbang devisa negara 5M pertahun dan penyedia lapangan kerja bagi 4 juta orang. Seiring berjalannya maktu, mulai timbul masalah kehutanan, seperti masalah sosial tenurial, muncul HPH, kerusakan kehutanan yang paling cepat terjadi setelah reformasi. Aspek kehutanan yang seharusnya saling terintegrasi tapi realitanya hal itu malah terjadi tarik ulur, masalah sosial budaya, ekologi dan ekonomi. Pemerintah kurang memberi perhatian terhadap masyarakat yang mengelola hutan rakyat, sehingga tidak terjadi peningkatan hutan rakyat, padahal hutan rakyat memenuhi semua aspek yang saling berintegrasi, masyarakat dapat hasil keuntungan, devisa dapat juga berkembang dan sosial budaya juga akan terbangun. Argoforestry menjadi jalan keluar dari sektor kehutanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, manajemen pemanfaatan lahan secara optimal dan lestari dengan cara mengkombinasikan kegiatan kehutanan dan pertanian pada unit pengelolaan lahan yang sama dengan memperhatikan kondisi lingkungan fisik, sosial ekonomi dan budaya masyarakat yang berperan serta.

Di sektor peternakan, jumlah sapi dan penduduk indonesia sangat timpal, kebutuhan sapi 484.60 juta yang terpenuhi hanya 399.320 selebihnya indonesia impor. Permasalahannya bibit yang belum mencukupi kebutuhan. Kondisi daging dan unggas, sebenarnya dapat tercukupi dan bisa ekspor, permasalahan adalah terletak pada indukan yang harus impor, pakan juga masih tegantung pada impor, kualitas daging juga belum memenuhi standar internasional jadi walaupun sudah dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri namun Indonesia belum bisa impor.

Populasi penduduk dunia yang semakin meingkat tapi tidak di imbangi dengan ketersediaan pemenuhan kebutuhan hidup, maka masalah tersebut tidak dapat dipungkiri lagi. Kualitas pangan, gizi, nutrisi masih di bawah rata-rata. Makanan sudah tidak aman lagi; daging sapi glonggongan, ayam tiren, pemalsuan telur, virus pada hewan potong, maslah di indonesia adalah sanitasi, dan rumah potong hewan tidak memenuhi aspek higienitas.

Dari Fakultas Teknologi Pertanian, ketua BEM TP juga memaparkan bahwa Indonesia hanya dapat menyediakan bahan mentah, tapi mereka masih impor bahan jadi. Indonesia memiliki Luas lautan 2/3 laut Dunia, tapi dari semua sektor itu belum ada yang mandiri, garam impor sarden impor.

Bapak Subejo (dosen fakultas Pertanian) memaparkan tantangan pangan dunia  yaitu pertumbuhan  penduduk yang tinggi, perubahan iklim global, kompetisi energi. Pemerintah seharusnya memberi anggaran APBN yang lebih banyak supaya proteksi terhadap petani meningkat, apresisi yang kurang di indonesia. Green capitalism yang semakin merebak tanpa disadari, maka hal yang harus di lakukan optimalisasi pengelolaan SDA, -SDM yang mumpuni, dan keberpihakan dan komitmen negara.

Bapak Sarmin sebagai pemateri juga memaparkan bahwa makin terbatasnya kapasitas produksi dan daya saing nasional mempengaruhi ketersediaan pangan Nasional, distribusi pangan harus dibarengi dengan infrastruktur yang baik. Teknologi dan produk pangan sebaiknya berbasis sumberdaya lokal. Masyarakat harus diberdayakan untuk mendukung kedaulatan dan ketahanan pangan.

Sebagai mahasiswa, kita harus peka terhadap persoalan Bangsa dan tak bijak jika kita hanya menggerutu dan saling menyalahkan. Mulai dari sekarang, mahasiswa hendaknya mampu memberikan solusi yang baik untuk terciptanya kedaulatan sektor agro yang sangat dekat dengan kesejahteraan Masyarakat. Dengan bersatu dengan sektor agro, maka kekuatan untuk mencapai tujuan besar Bangsa semakin mudah dicapai. Aksi nyata dari sektor agro sangat dinantikan masyarakat Indonesia.. (red)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s