UKT tenentukan jati diri Universitas Gadjah Mada sebagai “Kampus Kerakyatan”

Oleh: Mukhlis Sai Putra

Gambar

Uang Kuliah Tunggal (UKT) adalah sistem pembayaran seluruh komponen biaya pendidikan mahasiswa program S1 reguler (khususnya)yang dibagi secara merata ke setiap semester dalam asumsi waktu kuliah 8 semester. Artinya UKT tidak mengenal Sumbangan Peningkatan Mutu Akademik (SPMA), BOP, SPP, asuransi kesehatan, ataupun biaya wisuda. Seluruh sumbangan (biaya) akan di akumulasi kemudian dibagi secara merata ke 8 semester. UKT dapat kita analogikan seperti membayar kuliah dengan cara kredit karena dengan adanya UKT seluruh pengeluaran seorang mahasiswa selama di kampus dibagi dengan delapan semester (asumsi) waktu kuliahnya.

Pemberlakuan sistem ini didasari atas Surat Edaran Direktur Jendral Perguruan Tinggi No.97/E/KU/2013 tertanggal 5 Februari 2013, maka pihak Dikti meminta agar perguruan tinggi melaksanakan 2 hal yaitu:

  1. Menghapus uang pangkal untuk mahasiswa baru program S1 Reguler mulai tahun akademik 2013/2014.
  2. Menetapkan dan melaksanakan tarif Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa program S1 reguler mulai tahun akademik 2013/2014.

Rencana penerapan sistem UKT ini sepintas terlihat bagus. Sebab mahasiswa sudah tidak lagi dibebani biaya-biaya sejenis lainnya. Tetapi penerapan pembiayaan kuliah dengan sistem UKT ini justru menguntungkan mahasiswa dari kalangan keluarga kaya. Sebab, mereka tidak lagi dibebani biaya-biaya lainnya dan potensi kenaikan biaya kuliah per-semesternya. Padahal, sering kali PTN (termasuk UGM) bertumpu kepada mahasiswa dari keluarga kaya untuk menjalankan sistem subsidi silang dengan cara memberi tarif kuliah sedikit lebih mahal untuk mensubsidi mahasiswa dari kalangan keluarga miskin atau kurang mampu seperti halnya SPMA di UGM yang disesuaikan dengan pendapatan orang tua masing-masing sesuai grade yang telah ditetapkan. Bila UKT diberlakukan, mahasiswa dari kalangan keluarga mampu dan kurang mampu biaya kuliahnya sama dan tetap terus sampai selesai masa studinya. Penetapan UKT ini akan berpotensi memberatkan mahasiswa dari keluarga miskin dan kurang mampu.  Sebab, laju pendapatan mereka akan kalah cepat dibandingkan dengan inflasi setiap tahunnya. Di saat orangtuanya mulai tua atau sudah tidak bekerja lagi ataupun bagi mereka yang tidak memiliki penghasilan yang tetap sekalipun, biaya kuliah dipatok dalam jumlah tertentu sesuai dengan perhitungan UKT.  Adilkah UKT? Atau memang ada agenda besar dibaliknya yang perlu kita cermati.

Dampak diterapkannya UKT dari sisi positif memang biaya masuk awal dirasakan lebih murah oleh orang tua mahasiswa tetapi yang kemudian perlu digarisbawahi adalah biaya tiap semester melonjak lebih tinggi, sementara dari sisi negatif penerapan UKT ternyata menyebabkan pihak universitas yang menerapkannya mengalami defisit pendapatan pada tahun pertama hingga tahun ketiga dan akan kembali stabil setelah menjalankan sistem ini selama 4 tahun penerapan. Ini dapat menyebabkan pendanaan kegiatan mahasiswa akan  relatif lebih kecil dari tahun-tahun sebelumnya, hal ini di rasa konyol karena jika kita perhatikan Kemendikbud telah berjanji memberikan Batuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) yang berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai kebutuhan PTN masing masing bagi yang siap menjalankan sistem UKT untuk mengantisipasi defisit anggaran yang dialami PTN akibat pemberlakuan sistem UKT. Terlebih setelah diketahui bahwa dana tersebut juga dibatasi dari pemerintah sehingga dirasa harapan UKT lebih murah adalah angan-angan saja karena pada hakikatnya UKT didasari atas kalkulasi sistem biaya yang sudah dijalankan sebelumnya dengan penambahan biaya kemahasiswaan lain.

Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu PTN yang dikenal dengan “kampus kerakyatan” seharusnya berani berkorban dengan menyelenggarakan pendidikan yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat. Kemudian, kita evaluasi apakah dengan biaya pendidikan murah kualitas pendidikan akan menurun. Memang, ini tantangan untuk berani melawan arus dan membuktikan bahwa UGM mampu memberikan yang terbaik bagi kemajuan bangsa. Maka dari itu pihak rektorat UGM seharusnya lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan untuk menentukan besaran UKT. UGM memang telah merencanakan pemberlakuan sistem ini, tetapi hingga tulisan ini dibuat belum jelas ditentukan berapa besaran biaya UKT yang akan di berlakukan.Kemudian dalam penentuannya harus dicermati seperti proses penyusunan maupun transparansi anggaran yang tertutup sehingga ditakutkan akan terjadi mark up. Maka dari itu perlu adanya pengkawalan dalam perhitungannya.Dan apabila sudah ditentukan besarannya, perlu juga diperhatikan terkait dengan pemberian beasiswa, tahun ini kuota untuk beasiswa serta Bidikmisi di UGM mengalami peningkatan dan belum tepat sasaran, pengawalan terhadap beasiswa ini penting karena beberapa mahasiswa ada yang benar-benar menggantungkan hidupnya dari beasiswa ini, sering ditemukan beasiswa yang diberikan ternyata terlambat diterima mahasiswa yang membutuhkan, mirisnya lagi ternyata di lapangan ditemukan beberapa mahasiswa yang tidak berhak yang juga menikmati beasiswa tersebut. Dan yang tidak kalah penting adalah advokasi bantuan untuk mahasiswa paska penerapan UKT, jangan sampai nantinya terjadi seorang mahasiswa yang berhenti kuliah dikarenakan alasan tidak mampu membayar biaya kuliah tiap semesternya, maka kejelasan dasar hukum berupa SK Rektor untuk keringanan, penundaan dan pembebasan biaya uang kuliah dengan sistem UKT harus segera direalisasikan.

Jika pendidikan merupakan hak setiap warga negara seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” maka kita sebagai mahasiswa yang tahu dan mampu mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah wajib hukumnya membantu mereka yang belum tahu dan mampu, mari bergerak bersama untuk menciptakan perubahan ke arah perbaikan bagi Indonesia dan langkah itu dimulai dari kampus kita Universitas Gadjah Mada tercinta.

*Mukhlis Sai Putra (Kepala Departemen Kajian Strategis Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fak.Kehutanan UGM)

Ilustrasi: BEM KM UGM 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s