Kastrat Note : “Mengembalikan Kejayaan Agro dalam Membangun Perekonomian Indonesia”

Kastrat Note : “Mengembalikan Kejayaan Agro dalam Membangun Perekonomian Indonesia”

14516_392692240807831_332857145_a

Permasalahan ketika kita berbicara tentang apa yang diandalkan di sektor kehutanan saat ini (baik yang hasil hutan kayu maupun hasil hutan non kayu), maka permasalahan sekarang ini yaitu dalam hal output per tahunnyayang lebih rendah dibanding sektor perkebunan. Dan hal itulah yangmenyebabkan kenapa sekarang ini banyak lahan hutan di konversi menjadi perkebunan, seperti perkebunan sawit. Bahkan ironinya juga, banyak alumni – alumni mahasiswa kehutanan yang bukannya menanam pohon – pohon hutan untuk dijadikan usaha, tetapi mengusahakan sawit yang memang dari segi pendapatan per tahunnya saat ini cukup besar. Di sini jelas sekali kalau urusan finansial (financial factors) yang lebih sering dikedepankan atau jadi pertimbangan utama oleh para pengusaha – pengusaha, khususnya di Indonesia saat ini. Sikap – sikap manusia yang tidak pernah puas terlihat disini. Karena hal tersebut di atas perlu adanya terobosan – terobosan yang bagus mengenai penggunaan lahan yang luas oleh pengusaha untuk usaha tertentu, agar bisa ada keseimbangan antara finansial dengan keseimbangan ekosistem.

Pembentukan kawasan hutan yang berbasis ekosistem dimungkinkan dapat meng-handle baik dari segi finansial maupun keseimbangan ekosistem. Dengan adanya keseimbangan antara segi finansial dengan ekosistem, maka diharapkan dapat menciptakan sustainable productivity  yang tetap atau bahkan meningkat dan tidak decline. Contoh dari pengusahaan hutan yang berbasis ekosistem yang unggul antara lain tambak udang di dalam mangrove. Di sini, membangun hutan tanpa suatu pengelolaan yang jelas akan menjadi kendala beberapa investor dalam menanamkan modalnya. Namun, ada kecenderungan bahwa  rakyat semakin buruk apa bila investor menanamkan modalnya dan “menguasai suatu wilayah” (di sekitar masyarakat). Di sini masyarakat harusnya ikut diuntungkan, bukan sebaliknya. Di sini perlu hukum dan aturan yang jelas agar lebih pro rakyat, bukan malah pro ke investornya.

Penggabungan antara sektor perkebunan/ pertanian dengan kehutanan juga tindakan yang baik dalam menyeimbangkan antara faktor finansial dan ekosistem. Ruang temu ini biasa disebut dengan istilah agroforestry.Agroforestry sudah diterapkan sejak lama di Indonesia, dan hal ini juga sudah diterapkan pula di HPH – HPH di Jawa (seperti tumpangsari). Sayangnya, pemanfaatan lahan hutan produksi di bawah tegakan seperti oleh masyarakat penanaman umbi dapat merugikan dan mengurangi produktivitas tegakan jika tidak tepat waktunya, karena pada tumpangsari di hutan produksi ada periode – periode tertentu. Persoalan ini perlu diperhatikan, karena ini juga mempengaruhi sediaan pangan. Dan yang sangat perlu diperhatikan oleh para pengelola hutan yaitu kesejahteraan masyarakat sekitar hutan tersebut.

Harusnya Indonesia tidak hanya berpacu pada teknologi non agro, tetapi akan lebih baik jika mengembangkan sektor agro (agro sectors) juga, begitu pula sektor pangan. Sebagai negara yang memiliki SDA yang melimpah, akan lebih baik apabila memanfaatkannya dan diikuti dengan teknologi yang unggul pula. Permasalahan yang sering terjadi yaitu Indonesia sering mengekspor bahan – bahan mentah, dan mengimpor barang jadi (yang dimungkinkan merupakan produk akhir dari bahan – bahan mentah yang sebelumnya diekspor tersebut), dan yang terjadi adalah membeli kembali (import) barang yang sudah jadi tersebut dengan harga yang lebih mahal daripada ketika menjual ke luar (export) mentahnya. Hal tersebut terdengar sangat ironi, melihat Indonesia yang mempunyai bahannya, tetapi tidak dapat mengolah. Di sini sebagai contoh, seperti halnya Jepang memproteksi luar biasa sektor pangan dan ini yang harus dicontoh oleh Indonesia.

Menurut data research, saat ini 10% penduduk dunia masih mengalami kelaparan. Negara – negara ke depan bisa dimungkinkan tidak condongminyak, tetapi akan ke pangan. Indonesia pun masih impor beras untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri, hal ini seharusnya jadi sorotan pemerintah saat ini. Karena sebab itu, seharusnya Indonesia menguatkan sektor pangan, disamping untuk kebutuhan di dalam negeri maupun untuk diekspor ke luar negeri.

Oleh:

Sinom S. Probo

Dept. Kajian Strategis Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kehutanan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s