Lebih Dekat Dengan Calon Dekan FKT UGM

Lebih Dekat Dengan Calon Dekan FKT UGM 2012-2016

1.Ris Hadi Purwanto

Bapak Ris Hadi Purwanto, merupakan salah seorang calon dekan FKT UGM yang akan berpartisipasi dalam pesta demokrasi. Menurut peraturan rektor nomor 204, untuk menjadi seorang dekan dapat dilakukan dengan mencalonkan diri maupun dicalonkan minimal oleh lima orang dosen. Disini, Pak Ris termasuk calon dekan yang dicalonkan dengan syarat yang terpenuhi.

Ketika masih menjadi mahasiswa, Pak Ris merupakan sosok yang tekun belajar. Hal tersebut ditunjukkan dengan Ipnya yang selalu cum laude dan beasiswa Supersemar (surat perintah sebelas maret) yang beliau dapatkan selama kuliah sehingga tidak mengherankan beliau menjadi salah seorang mahasiswa teladan dari Fakultas Kehutanan ini. Apa motivasi hingga beliau mendapatkan anugrah sebaik ini? Kuncinya pada kesenangan pribadi, bahwa pilihan terhadap kehutanan merupakan minat utama beliau, disamping memang ada minat yang lain seperti teknik kimia dan kedokteran. Beliau berprinsip bahwa apapun yang dilakukan tanpa paksaan, pasti akan menghasilkan prestasi yang luar biasa. Motivasi terbesar untuk terus berprestasi ini beliau dapatkan dari sang Ayah yang selalu mendukung keinginan beliau untuk bisa duduk di bangku kuliah, walaupun harus menggunakan berbagai cara seperti berhutang. Akan tetapi justru inilah yang menjadi semangat Pak Ris untuk tidak bermalas-malasan dalam belajar. Pak Ris selalu berpesan kepada para mahasiswa untuk selalu memanfaatkan peluang kuliah ini untuk menjadi orang yang lebih sukses.

Sebelum menjadi dosen, Pak Ris sempat bekerja di PT ASIA LOG, sebuah HPH milik swasta yang terletak di Jambi. Tetapi karena tidak kerasan, maka beliau memutuskan pindah ke Aceh. Baru kemudian Pak Ris menjabat sebagai dosen di FKT UGM.

Terhadap kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, Pak Ris berpandangan positif selama kegiatan tersebut mendukung pengembangan softskills, diakui pusat, dan tidak menyimpang. Beliau sempat berkomentar terhadap kondisi sekber (sekretariat bersama) yaitu tidak masalah apabila mahasiswa menggunakan tempat itu, karena walaupun terbilang kecil untuk seluruh HMM/BSO, justru itulah yang membuat mahasiswa menjadi kreatif dan survive berada pada organisasi yang telah ia pilih. Oleh karena itu, beliau berpendapat bahwa tidak perlu adanya kemewahan fasilitas karena hal tersebut tidak menjamin adanya komitmen dalam berorganisasi.

Pencalonan diri sebagai dekan tentu bukan tujuan yang mulia, karena disini Pak Ris menekankan bahwa tujuan esensial dari pemilihan dekan ini tidak hanya sekedar untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi saja. Apabila terpilih menjadi dekan nanti, Pak Ris berupaya untuk melakukan servant kepada civitas akademika yang terdiri atas dosen, karyawan, dan mahasiswa dimana yang paling esensial adalah bahwa beliau menginginkan adanya perbaikan institusi menjadi lebih baik.

2. Satyawan Pudyatmoko

Calon dekan Fakultas Kehutanan selanjutnya adalah, Bapak Satyawan Pudyatmoko, yang lahir di Boyolali, 9 Agustus 1971. Beliau merupakan calon dekan yang sejak kecil sudah dekat dengan kehidupan hutan. Hal ini lah yang memotivasi beliau untuk mengabdi sebagai dosen Fakultas Kehutanan UGM. Selain itu, alasan beliau ingin menjadi dekan adalah karena beliau ingin membenahi hal-hal yang masih belum sempurna dikampus. Beliau jg diusung oleh beberapa dosen untuk menjadi dekan. Yang kemudian beliau akan mewujudkan VISI dan MISI Fakultas Kehutanan UGM.

Kesibukan beliau selain menjadi dekan yaitu sebagai Wakil Dekan bidang Alumni, Penelitian dan Kemahasiswaan. Adapun organisasi yang beliau ikuti adalah Wildlife Conservation Forum, IUFRO dan beberapa yayasan konservasi. Sebagai wakil dekan 3, beliau dituntut untuk memiliki jaringan yang luas, sehingga kegiatan di dalam fakultas dapat berjalan dengan lancar, terkait dengan keilmuan, pengembangan dan kemahasiswaan.

Saat beliau menjadi mahasiswa, beliau sangat tertarik dengan alam dan juga hutan. Dari sanalah, beliau memutuskan untuk masuk ke Fakultas Kehutanan UGM dan menempatkan pada pilihan pertama. Beliau merupakan mahasiswa yang lulus dengan IPK tertinggi pada masa studi 5 tahun. Beliau juga aktif menjadi asisten praktikum, aktif dalam UKM Karate Inkai dengan sabuk cokelat.

Sebagai calon dekan, bapak Satyawan berjanji akan membenahi hal-hal yang belum sempurna pada periode ini. Mengenai kurikulum, beliau mengatakan bahwa kurikulum yang sekarang kurang begitu baik dan perlu dibenahi. Terkait akreditasi, fakultas sudah mempersiapkan akreditasi Prodi Kehutanan, bukan lagi per minat atau jurusan. Namun hal ini belun ditanggapi oleh DIKTI.

Untuk organisasi mahasiswa di Fakultas Kehutanan, beliau sangat mendukung adanya organisasi tersebut, dan juga mendukung kegiatannya. Untuk sekre HMM dan BSO, menurut beliau perlu adanya evaluasi, setelah itu mahasiswa harus berani menyampaikan keinginannya untuk itu dengan cara mengajukan laporan yang nantinya akan dipikirkan untuk pembuatan sekre baru. Selain itu, beliau juga sangat mendukung forum terbuka dekanant yang diselenggarakan oleh mahasiswa, karena menurut beliau, hali ini sangat penting untuk mengoreksi kekurangan dan menjadikan Fakultas Kehutanan lebih baik lagi.

 3. Sri Nugroho Marsoem

Bapak Sri Nugroho Marsoem, merupakan salah satu dekan yang mencalonkan diri karena merasakan ada sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk fakultas yang lebih baik. Visi misi nya adalah menjadikan fakultas lebih unggul melalui transparansi contohnya dan meningkatkan tiga aspek penting dalam fakultas yaitu dosen, karyawan dan mahasiswa.

Bapak yang memiliki moto hidup, “jangan sia-siakan hidupmu, karena hidup hanya sebentar”, mengisi kesibukan diluar FKT diisi dengan berolah raga setiap paginya dengan jarak tempuh sekitar 2,5 Km. kemudian beliau sangat hobi menanam pohon, mendengarkian musik dan juga membaca buku seputar biografi. Karena memiliki hobi yaitu senang mendaki gunung, menyukai tanaman dan lebih khususnya menyukai pelajaran kimia sehingga memilih jurusan THH.

Selama menjadi mahasiswa S2 dan S3, beliau menjadi ketua mahasiswa asing seluruh negara di Universitas Nagoya, serta menjadi ketua PPI (Perkumpulan Pelajar Indonesia). Sedangkan ketika kuliah S1 berpartisipasi dalam panitia kegiatan camping pada semester 1 yang sekarang lebih dikenal “Forestry Camping”

Beliau sudah 34 tahun menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada, hal ini beliau rasakan sangat berhubungan baik dengan UGM ataupun fakultas terjalin erat seperti saudara. Beliau juga pernah menjabat sebagai direktur pusat studi jepang UGM. Dan banyak pula penelitian yang sudah dilakukan oleh beliau untuk kesejahteraan masyarakat.

Beliau sangat mendukung terkait pembuatan forum pertemuan dengan mahasiswa yang diagendakan secara efektif. Selain itu mendukung pula adanya kegiatan semacam forum terbuka dekanat. Dan janji beliau ketika nanti terpilih adalah, memulai pembangunan serta penyelesaian pada internal fakultas terlebih dahulu dan kemudian menyeimbangkan prioritas pembangunan serta penyelesaian masalah internal dan eksternal fakultas.

4. Suryo Hardiwinoto

Bapak Suryo Hardiwinoto merupakan salah satu calon dekan fakultas kehutanan UGM. Beliau  memiliki pedoman yaitu untuk mencapai cita – cita harus berusaha dengan keras dan berdoa, setiap usaha keras harus disertai dengan doa, dan dilakukan dengan sungguh2, ini yang membedakan antara orang beragama dengan orang yang tak beragama. Namun saat belajar di Jepang mendapat hal yang bagus, karena di sana mempunyai budaya yang bagus, motivasi untuk mlakukan pekerjaan, pekerjaan benar – benar dikerjakan secara sungguh – sungguh sesuai profesi, tentu dengan kejujuran. Dan apabila hal tersebut terjadi di Indonesia, Indonesia akan dapat menjadi maju seperti Jepang. Sumber daya manusia yang berkualitas adalah kata kuncinya.

Bapak Suryo Hardiwinoto pernah menjadi sekjur selama 4 tahun, kajur 3 tahun, wakil dekan selama 4 tahun, menjadi pengelola S2 selama 2 tahun, dan sekarang menjadi pengelola S3. Jadi beliau cukup banyak mengelola fakultas ini. Beliau merupakan salah satu dosen yang dicalonkan oleh dosen silvikultur lainnya, namun mereka akan berusaha karena mendapat kepercayaan tersebut.

Beliau sangat peka terhadap kabar kampus kehutanan. Seperti terkait dengan akreditasi beliau mengatakan bahwa, akreditasi adalah harus, harus, dan harus dilakukan, tetapi betapa sangat berat dan tidak mudah mengurus permasalahan akreditasi tersebut. Pada saat Beliau diberi amanah menjadi kabag Silvikultur waktu itu dan akreditasinya habis, beliau menyiapkan dan berhasil, dan mendapatkan A. Dan ketika beliau mengurus di S2, dan sudah kadaluarsa karena hampir 10 tahun belum diakreditasi, dan begitu beliau masuk, pekerjaan yang beliau lakukan adalah mengakreditasi, dan mendapat B tetapi B yang sangat gemuk karena saat itu nilainy 59 sedangkan min A nilainy 60, dan saat itu beliau berencana untuk reakreditasi, tetapi pada saat ingin melakukan itu, pemimpin fakultas berkehendak lain, beliau di switch untuk mengelola S3 jadi beliau belum sempat untuk mengreakreditasi S2. S3 saat itu yang ternyata belum pernah dikreditasi dan target utama beliau waktu itu adalah mengakreditasi dan alhmdulillah selesai dan tinggal di submit.

Menurut  beliau, kata kunci pengelolaan perguruan tinggi adalah adanya penilaian secara extern dan intern. Akreditasi menjadi salah satu point fokus, yang pertama adalah kesehatan institusi dan untuk tahu sehat atau tidak sehat dari akreditasi. Dan kemudian sumberdaya manusia, serta networking yang bagus.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s