Ingat Bumi, Ingat Hutan Kita

Ingat Bumi, Ingat Hutan Kita

Empat puluh dua tahun yang lalu, 20 juta orang dari seluruh penjuru Amerika Serikat (AS) melakukan unjuk rasa besar-besaran pada tanggal 22 April 1970. Hari itu, 22 April 1970, dianggap sebagai kali pertama diadakannya peringatan hari bumi. Para pengunjuk rasa menyuarakan permasalahan lingkungan yang mereka rasakan, seperti kualitas air yang buruk, dan polusi udara yang menyesakkan. Sampai saat ini hari bumi selalu diperingati di ratusan negara tiap tahunnya.

Pada tahun 1960an permasalahan lingkungan memang masih diabaikan dalam pembahasan agenda politik AS. Senator AS, Gaylord Nelson, menjadi pelopor munculnya unjuk rasa besar-besaran tersebut. Awalnya dia terinspirasi oleh unjuk rasa anti-perang Vietnam, Nelson juga ingin mencoba hal yang sama agar permasalahan lingkungan menjadi agenda politik AS. Lebih jauh lagi, permasalahan lingkungan harus menjadi perhatian seluruh penduduk di muka bumi.

Perubahan iklim―lepas dari perdebatan tentang kebenarannya―masih menjadi permasalahan lingkungan yang menyita perhatian kalangan internasional. Hal ini menyangkut eksistensi bumi dan seisinya. Tindakan manusia yang semakin semena-mena terhadap alam membuat ancaman perubahan iklim menjadi semakin nyata. Suhu udara semakin tinggi, musim yang tak menentu, penyakit baru bermunculan, permukaan air laut yang meningkat, kebakaran hutan dan kekurangan atau sebaliknya kelebihan air (banjir) pada daerah-daerah tertentu yang dianggap sebagai sebuah dampak yang muncul akibat adanya perubahan iklim. Perubahan iklim disinyalir sebagai akibat dari peningkatan konsentrasi gas rumah kaca.

Permasalahan lingkungan dianggap memiliki kaitan erat dengan keberadaan hutan. Suatu ekosistem yang terdiri dari kumpulan flora dan fauna yang saling berinteraksi sehingga muncul perbedaan kondisi iklim di dalam hutan dan di luarnya. Belakangan, hutan dianggap sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup besar. The UK’s 2006 Stern review on the Economic of Climate Change memperkirakan perubahan penggunaan lahan – dan khususnya deforestasi – bertanggung jawab untuk 18% dari emisi global. (HM Treasury, 2006 ).

Solusi-solusi untuk menanggulangi perubahan iklim makin banyak yang menyentuh pada permasalahan yang terjadi di dunia kehutanan. Deforestasi (perubahan tata guna lahan) dan degradasi hutan dianggap sebagai salah satu biang kerok meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di muka bumi. Argumentasi ini didasarkan pada hilangnya fungsi penyerapan karbon (bagian dari GRK) akibatnya beralihnya penggunaan lahan menjadi pemukiman, perkebunan, peternakan, dan penggunaan lainnya. Sedangkan degradasi hutan dapat diakibatkan oleh penggundulan hutanyang menyebabkan tutupan hutan berkurang dan penurunan produktivitas yang dampaknya juga mengurangi penyerapan karbon.

Penyerapan karbon barangkali bukanlah satu-satunya manfaat yang bisa didapatkan dari keberadaan hutan. Kalau kita boleh membagi, ada manfaat yang berwujud (tangible) dan yang tidak berwujud atau berupa jasa (intangible). Manfaat yang berwujud sudah banyak yang mengetahuinya, terutama hasil hutan berupa kayu yang mendatangkan devisa yang besar bagi negara. Penyerapan karbon bisa dikatakan sebagai manfaat hutan yang berupa jasa lingkungan. Lalu apa saja manfaat jasa lingkungan yang lain?

Pada tanggal 22 Maret lalu, penduduk dunia memperingati hari air dengan mengambil tema “Air dan Ketahanan Pangan”. Apa hubungan air dan hutan? Tutupan hutan memerankan fungsi yang unik dalam konservasi sumber daya air. Dr. Sofyan Warsito manganalogikan hutan berfungsi seperti “spon”. Kala musim penghujan, hutan mampu membantu air hujan yang jatuh agar dapat meresap ke dalam tanah. Pohon, tumbuhan bawah, dan seresah-seresah di lantai hutan memberikan kesempatan bagi air untuk meresap ke dalam tanah sehingga tanah terhindar dari erosi dan air tersimpan menjadi air tanah. Kala musim kemarau, cadangan air yang sudah tersimpan dalam ”spon” bisa dimanfaatkan. Jika tutupan hutan hilang, fungsi spon juga kan hilang. Ketika musim penghujan akan muncul banjir sedangkan ketika musim kemarau akan terjadi krisis air.

Hutan dikenal sebagai tempat yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Di dalam hutan ditemukan berbagai jenis flora dan fauna. Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan tropis dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Banyak spesies flora dan fauna yang belum diteliti secara mendalam, padahal banyak manfaat dari keberadaan mereka. Contoh kecil dapat kita lihat dari keberadaan orangutan. Orangutan sempat dianggap sebagai hama pengganggu di lahan perkebunan sawit (sebenarnya perkebunan sawit lah yang mengganggu habitat mereka!), padahal orangutan berperan penting dalam kelestarian ekosistem hutan. Salah satunya adalah sebagai penyebar biji-biji dari buah yang ukurannya cukup besar di mana organisme yang lebih kecil tidak memakan buah itu. Orangutan bisa kita analogikan sebagai “petani” hutan yang memelihara kelestarian hutan. Itulah pentingnya pelestarian terhadap orangutan, satwa-satwa  lainnya, serta flora hutan.

Oksigen yang kita hirup merupakan salah satu manfaat yang bisa diperoleh dari lestarinya hutan. Bayangkan saja jika kita harus membeli oksigen, berapa ongkos yang dikeluarkan per detik, per menit, per hari, per bulan, atau per tahun. Pasti sangat mahal. Namun hutan memberikannya dengan cuma-cuma dari proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan berklorofil.

Komposisi hutan menjadikan tanah hutan menjadi selalu subur dan produktif. Tumbuhan mendapatkan nutrisi yang baik untuk pertumbuhannya. Kesuburan ini akan mendatangkan manfaat yang berwujud berupa tumbuhan yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, pakan ternak, hasil kayu dan bukan kayu, serta obat-obatan. Komposisi hutan yang tak sejenis harus dipertahankan agar manfaat ini bisa tetap berkesinambungan.

Tak lupa juga manfaat rekreasi yang bisa diperoleh dari keindahan dan keasrian ekosistem hutan. Orang-orang kota menjadikan hutan sebagai sarana untuk melepas penat setelah melakukan rutinitas-rutinitas di kota. Keindahan pemandangan hutan tak dapat ditandingi oleh goresan kuas di atas kanvas. Kesejukan di dalam hutan sungguh jauh lebih menenangkan dibandingkan kesejukan AC (pendingin udara).

Betapa banyak manfaat hutan yang telah kita rasakan dan semoga saja akan terus dirasakan hingga anak cucu kita. Manfaatkan momentum hari bumi untuk kembali menyadarkan kita bahwa hutan telah banyak berjasa bagi eksistensi bumi dan seisinya. Kelolalah bumi dengan baik, manfaatkanlah hutan secara bijak, ingatlah bahwa bumi dan seisinya merupakan pinjaman dari anak cucu kita.

Kastrat Note #3

Hairi Cipta-Kajian Strategis LEM FKT

http://www.catatan-rimbawan.co.cc

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s