Psikomedia: Mengupas Difabel di Indonesia

Talkshow dan Launching Psikomedia: Mengupas Difabel di Indonesia

 

Awalnya, golongan orang yang berkebutuhan khusus disebut dengan disable atau yang dikenal dengan sebutan ‘cacat’. Hal ini terjadi karena masih banyak orang yang menganggap golongan tersebut tidak dapat hidup secara mandiri. Akan tetapi, saat ini sebutan itu telah tergusur oleh istilah lain yang lebih manusiawi dan dapat diterima yaitu difabel. Istilah difabel ini diambil dari frasa Bahasa Inggris yaitu different abilty people yang berarti orang-orang dengan kemampuan berbeda.

Berawal dari realita terpinggirkannya golongan difabel ini, Fakultas Psikologi mengadakan talkshow sekaligus launching majala Psikomedia bertema difabel pada hari Sabtu, 17 Maret 2012 yang lalu. Acara tersebut dimulai pukul 08.00-12.00 WIB dengan variasi peserta yang cukup beragam meliputi BPPM (Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa) dari tiap fakultas serta kalangan umum. Beberapa  fakultas yang nampak hadir adalah BPPM Rimba(FKT), Agrita (FTP), Surya Karta (FIB), Equilibrium (FEB) sedangkan kalangan umum dihadiri oleh perwakilan PMI, Arena UIN Sunan Kalijaga, dan UNY.

Bertempat di gedung G-100 Auditorium Psikologi, acara tersebut menghadirkan dua narasumber yang sangat meginspirasi dan tentu saja kompeten di bidangnya. Kedua narasumber tersebut adalah Drs. Setya Adi Purwanta, pendiri pergerakan difabel Yogya dan Dra. Aisyah Indati, M.S, dosen Fakultas Psikologi.

Dari talkshow tersebut dijelaskan bahwa sesungguhnya, ada tiga golongan sikap masyarakat terhadap difabel yaitu: golongan konservatif, yang berpikir bahwa difabel adalah takdir. Kedua adalah golongan liberal, yang menyatakan bahwa difabel merupakan kelompok yang harus pandai dan kuat agar sukses dalam hidup. Golongan ini memberikan pendidikan dan pelatihan kepada kaum difabel, akan tetapi tidak mengarahkan sebaiknya kemana mereka melangkah. Yang ketiga adalah golongan berpikir kritis yang menyatakan bahwa tidak pernah ada orang cacat, yang ada hanyalah orang yang dicacatkan.  Pada talkshow tersebut, Drs. Setya Adi Purwanta mengkritik negara Indonesia yang masih memberdayakan orangb-orang yang gifted saja, orang-orang yang bisa mengembalikan uang kepada negara. Akan tetapi, kaum difabel hampir tidak mendapat apresiasi, terutama di lingkungan kerja. Banyak buruh dibayar murah, diskriminasi cost profit analysis terjadi dimana-mana, dan bukan kemanusiaan yang diutamakan. Melalui talkshow tersebut, beliau berharap bahwa solidaritas terhadap difabel tidak dilakukan setahun sekali ketika Hari Penyandang Cacat pada tanggal 3 Desember diperingati, akan tetapi solidaritas harus dilakukan sepanjang waktu, atas nama kemanusiaan. (ay)

 

– MedInfo LEM FKT UGM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s